Integrasi, Migrasi, Sistem, Serta Penerapannya pada Smart City

Integrasi dan migrasi sistem terdiri dari beberapa kata kunci, yaitu integrasi, migrasi serta sistem. Masing-masing kata tersebut mempunyai makna yang berbeda-beda. Berikut dipaparkan definisi ketiga kata tersebut, serta contoh penerapannya dalam Smart city.

1.1.      Integrasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) versi daring, integrasi termasuk kata benda. Makna integrasi secara umum adalah pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat.
Sehubungan dengan teknologi dan sistem informasi, sistem terintegrasi atau integrated system merupakan sebuah rangkaian proses yang digunakan untuk menghubungkan beberapa sistem terkomputerisasi dan software aplikasi. Integrasi pada sistem informasi merupakan platform teknologi yang memungkinkan sebuah organisasi untuk menyatukan serta mengkoordinasikan bisnis proses yang berlaku. Sistem informasi terintegrasi sering disebut sebagai Enterprise Information System(EIS).
Integrasi menyebabkan penggabungan komponen berbagai sub sistem ke dalam satu sistem. Penggabungan tersebut harus bisa menjamin fungsi-fungsi dari sub sistem sebagai satu kesatuan sistem. Pengintegrasian bisa dilakukan secara fisik maupun secara fungsional.
Ada 4 komponen sistem informasi yang dapat diintegrasikan. Komponen pertama adalah sistem, yang juga di dalamnya terdapat data(integrasi data). Komponen kedua adalah sumber daya yang berupa manusia. Komponen ketiga adalah hardware atau perangkat keras, yang dalam hal ini adalah perangkat keras komputer. Komponen terakhir adalah budaya kerja atau bisnis proses, yaitu serangkaian aktifitas di lingkungan organisasi yang mencakup inisiasi input, transformasi informasi, serta output yang dihasilkan.

1.2.      Migrasi
Secara umum, migrasi memiliki arti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Definisi lain, migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain(KBBI versi daring).
Migrasi dalam teknologi informasi berarti memindahkan informasi dari suatu sistem ke sistem lainnya, tanpa disertai konversi besar-besaran. Dalam hal data, migrasi dapat dikatakan sebagai reproduksi suatu data, dengan beberapa perubahan pada konfigurasi dan strukturnya. Setelah dilakukan migrasi, data mungkin terlihat seperti aslinya. Tetapi kenyataannya fisik data telah berubah bentuk pasca dilakukan migrasi.
Apabila dikaitkan dengan sistem, maka migrasi merupakan proses perpindahan penggunaan sistem. Proses perpindahan sistem juga diikuti oleh informasi yang ada di dalamnya, untuk alasan tertentu.
1.3.      Sistem
Sistem sebagai kesatuan yang dapat diintegrasikan maupun dimigrasi memiliki beberapa definisi. Berdasarkan KBBI versi daring, sistem memiliki tiga pengertian umum. Pertama, sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur dan saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalitas. Pengertian kedua, sistem adalah susunan yang teratur dari pandangan, teori, asas, dan sebagainya. Pengertian terakhir, sistem merupakan sebuah metode untuk mencapai tujuan tertentu.
Jogiyanto H.M.(2005) mendefinisikan sistem melalui pendekatan yang menekankan pada elemen atau komponen. Menurutnya, sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi tersebut bermakna, sistem merupakan kumpulan dari beberapa sub sistem(sistem-sistem bagian) yang saling berinteraksi.

Sebuah sistem memiliki karakteristik atau sifat-sifat tertentu. Karakteristik-karakteristik sistem berupa: komponen; batasan sistem(boundary); lingkungan luar sistem(environment); penghubung(interface); masukan(input); keluaran(output); pengolah(process); serta sasaran(objective) atau tujuan(goal). Gambar 1 berikut menggambarkan definisi sistem melalui pendekatan elemen atau komponen, serta karakteristik sistem.



Gambar 1. Karakteristik sebuah sistem

Gambar 1 menggambarkan definisi sistem serta karakteristik sistem. Sebuah sistem diwakili oleh lingkaran paling atas, dan di dalamnya terdapat beberapa subsistem. Terlihat jelas bahwa seluruh subsistem tidak putus hubungan, melainkan ada interaksi tertentu. Ditunjukan pula  karakteristik serta posisinya masing-masing di dalam sistem. Masing-masing karakteristik sistem ditunjukan sesuai dengan kedudukannya dalam sebuah sistem.

1.4.      Penerapan pada Smart city
Smart city atau kota pintar adalah suatu konsep pengembangan, penerapan, dan implementasi teknologi yang diterapkan untuk suatu wilayah(khususnya perkotaan), sebagai interaksi yang kompleks diantara berbagai sistem di dalamnya(Agus Eka Pratama, I Putu: 2014). Kata city merujuk pada kota sebagai pusat dari sebuah negara atau wilayah dimana semua pusat kehidupan berada. Pusat kehidupan yang dimaksud berupa pemerintahan, perdagangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, dan lain-lain.
Smart city bukanlah produk baru, melainkan sudah dikembangan di hampir seluruh benua. Konsep ini dipelopori oleh benua Amerika dan Eropa, dengan perusahaan IBM menjadi wadah berdirinya smart city.
IBM membagi smart city menjadi 6 jenis. Keenam jenis tersebut meliputi smart economy, smart mobility, smart governance, smart people, smart living, dan smart environment.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa sebuah konsep smart city terdiri dari berbagai elemen yang terintegrasi, sehingga membentuk kesatuan smart city yang utuh. Dikaitkan dengan pengertian sistem yang sudah dipaparkan, maka smart city merupakan sebuah sistem yang utuh, dan 6 jenis pembagian smart city dari IBM merupakan sub-sub sistemnya. Keenam sub sistem tersebut terhubung satu sama lain, sehingga informasi yang mengalir dapat terintegrasi.
Contoh nyata integrasi pada smart city telah diterapkan di kota Seoul, Korea Selatan. Ibukota Korea Selatan ini menerapkan smart city yang terbagi ke dalam tiga kelompok, yang salah satunya adalah integrated city management framework. Bagian ini merupakan proses integrasi kota dan manajemennya ke dalam sebuah framework, yang di dalamnya mencakup sistem, individual, serta semua entitas di dalamnya.
Indonesia pun tidak mau ketinggalan dengan kota Seoul, maupun kota-kota lainnya yang menerapkan Smart city. Beberapa kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Denpasar, Bandung, Cimahi,  Manado, Jakarta, dan Yogyakarta juga turut menerapkan smart city. Aspek-aspek seperti pariwisata, budaya, pemerintahan, living, serta lingkungan menjadi objek pengembangan smart city pada beberapa kota di Indonesia.
Implementasi smart city akan membuat perubahan, diantaranya sistem informasi di masing-masing bidang diintegrasi menjadi satu kesatuan sistem yang masing-masing sub sistemnya saling terkait. Dalam proses integrasi, terdapat proses perpindahan sistem lama ke sistem baru, yang disebut dengan migrasi.
Ketika adanya migrasi sistem, maka data atau informasi di dalamnya juga harus dimigrasikan, agar tetap dapat digunakan. Sehingga data maupun informasi pada sistem lama (yang masih bisa digunakan) tetap exists, tanpa ada yang hilang.


DAFTAR PUSTAKA
[1]   Agus Eka Pratama S.T., M.T., I Putu. 2014. Smart City Beserta Cloud Computing dan Teknologi-Teknologi Pendukung Lainnya. Bandung: Informatika.
[5]   Jogiyanto H.M. 2005. Analisis & Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur, Teori dan Praktik Aplikasi Bisnis. Edisi ketiga. Yogyakarta: ANDI
[6]   Kamus Besar Bahasa Indonesia Versi Online dalam kbbi.web.id.
[7]   Manouvrier, Bernard., Menard, Laurent.  2008. Application Integration EAI, B2B, BPM and SOA. UK: ISTE Ltd.
[8]   Schmutz, Guido., Liebhart, Daniel., Welkenbach, Peter. 2010. Service-Oriented Architecture: An Integration Blueprint. Birmingham, UK: Packt Publishing Ltd.

Comments